Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kelangkaan BBM di Sabu Raijua Terus Berulang, Aktivis PERMASA-Kupang Angkat Bicara

Sabtu, 01 Agustus 2026 | Agustus 01, 2026 WIB Last Updated 2026-08-01T09:03:41Z
Alvin Riwu, Aktivis Permasa - Kupang 
Sabu Raijua | Detik Sarai Dalam kurun waktu 5 hari cuaca ekstrim melanda perairan Sabu Raijua, Bahan Bakar Minyak (BBM) pun langsung lenyap dari pasaran. Kelangkaan tersebut kembali menimpa masyarakat dan memicu gelombang pertanyaan publik yang tajam terhadap penanganan Pemerintah Daerah yang dinilai tak kunjung berubah meski masalah yang sama terjadi berulang kali.

 

Alvin Riwu, merupakan Aktivis Permasa-Kupang yang kerap mengangkat suara keras terkait persoalan yang tak kunjung selesai di Sabu Raijua

 

"Baru 5 hari cuaca tidak bagus, BBM langsung hilang. Ini bukan hal baru. Masalah yang sama terus berulang dari tahun ke tahun. Lantas, apa yang telah dilakukan Bupati dan jajaran pemimpin daerah selama ini?" Ujarnya, Kamis (31/07/2026).

 

Pemuda asal Sabu Raijua itu, mempertanyakan keseriusan Pemerintah Daerah dalam menyusun langkah antisipatif. Sabu Raijua sebagai wilayah kepulauan memang sangat bergantung pada jalur laut untuk seluruh pasokan BBM. 


Namun kenyataannya, hingga kini belum ada stok cadangan yang memadai maupun fasilitas penyimpanan yang cukup untuk menahan pasokan disaat cuaca buruk melanda.

 

"Kalau hanya hujan dan ombak tak terlalu besar selama 5 hari saja sudah langka, bagaimana jika musim barat datang lebih lama atau lebih keras? Apakah masyarakat harus terus menderita?" Tegas Alvin dengan nada bertanya

 

Menurut Alvin, kelangkaan yang terjadi terus-menerus membuktikan bahwa tidak ada perencanaan matang dan langkah nyata dari Pemerintah Daerah. Setiap kali terjadi kelangkaan BBM solusi yang ditawarkan hanya berupa janji-janji sementara tanpa perbaikan sistem.

 

"Kami mempertanyakan; Sampai kapan Pemerintah Daerah akan berdiam diri? Apakah akan terus menunggu cuaca baik baru berpikir? Kami menuntut Bupati untuk segera bertindak nyata — membangun tempat penyimpanan cadangan BBM, menyusun jadwal pengiriman yang lebih terjamin, dan menjamin ketersediaan stok yang cukup minimal untuk satu hingga dua bulan ke depan agar masyarakat tidak lagi menjadi korban situasi cuaca yang terus berulang," Katanya.

 

Kelangkaan BBM ini, kini mulai berdampak pada kenaikan harga di tingkat pengecer serta melumpuhkan sebagian aktivitas transportasi dan ekonomi warga Sabu Raijua. 

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya sekadar memberi pernyataan simpati, melainkan segera mewujudkan langkah konkret agar masalah ini tidak terus terulang setiap kali cuaca berubah.


Red/AH